Selasa, 20 Juli 2010

Ibu Bekerja, Anak Bagaimana?

Assalamu’alaikum,

Ustadzah, saya mengetahui bahwa idealnya seorang ibu sebaiknya ada di rumah untuk mengasuh, mendampingi, dan mendidiknya sendiri. Namun dengan kondisi yang ada, membuat saya harus menjadi seorang wanita yang bekerja. Yang ingin saya tanyakan, apa saja yang perlu saya lakukan dengan kondisi saya bekerja saat ini, agar perkembangan psikologis anak saya tetap optimal. Mohon sarannya, terimakasih.

(Ibu P di Sidoarjo)

Waaikumsalam ibu P di Sidoarjo

Menjadi wanita bekerja sekaligus ibu rumah tangga memang adalah sebuah pilihan. Saya memahami beberapa keluarga memang belum bisa menghindari hal ini. Sebenarnya, setiap keluarga memiliki keunikan dalam mengelola kehidupannya. Jadi mungkin solusi untuk sebuah keluarga akan berbeda dengan keluarga yang lain. Saya akan menceritakan beberapa keluarga. Sebagian keluarga yang kedua suami-istrinya bekerja memilih untuk menitipkan anaknya kepada orangtua/mertua, dengan alasan keluarga lebih dapat dipercaya untuk mengasuh anak-anak. Sebagian keluarga memutuskan untuk mengambil seorang pengasuh atau baby sitter untuk menjaga anaknya selama mereka bekerja karena tidak ingin merepotkan orangtua. Sebagian keluarga memilih untuk membawa anaknya di tempat penitipan anak karena ingin layanan profesional. Pilihan ini banyak dilakukan oleh keluarga dengan anak-anak yang masih bayi atau balita. Untuk keluarga yang memiliki anak lebih besar, banyak yang memilih sekolah fullday, dengan alasan memberikan lingkungan belajar selama seharian selama orangtua bekerja sehingga anak-anak mendapatkan pendidikan formal yang dapat dipercaya untuk perkembangan mereka.

Semua pilihan di atas pada dasarnya bisa dilakukan, tapi kami ingin memberikan saran berupa penekanan tertentu. Jika menitipkan kepada orangtua, perlu ada sebuah kesepakatan tentang pola asuh, karena seringkali kakek-nenek memanjakan cucu-cucunya sehingga mempengaruhi tingkat kemandirian. Jika menitipkan kepada pengasuh, baby sitter, atau tempat penitipan anak, maka perlu dilihat dulu, apakah pihak-pihak ini dapat memahami konsep pendidikan anak, mampu melakukan stimulasi atau pendidikan untuk perkembangan anak, dan punya komitmen serta kasih sayang seperti kita orangtuanya. Kejadian tentang pengasuh yang membiarkan anak, atau baby sitter yang memarahi anak, dan tempat penitipan anak yang hanya berjaga-jaga supaya anak tidak menangis, asalkan anak-anak diam dibiarkan saja, kejadian ini sering kita dengar dan perlu kita hindari. Oleh karena itu, perlu ada seleksi dengan serius ketika memilih pengasuh atau tempat penitipan anak.

Pada dasarnya, yang perlu dilakukan orangtua ketika meninggalkan anaknya untuk bekerja adalah memastikan anaknya mendapatkan lingkungan yang nyaman, mendapatkan stimulasi atau pendidikan yang tepat sesuai dengan usianya sehingga terpenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, ketika orangtua pulang dari bekerja, diharapkan dapat mengelola waktunya dengan baik untuk tetap berinteraksi dengan anak, misalnya menyiapkan keperluannya sebelum berangkat bekerja, makan bersama, menemani belajar, diskusi atau ngobrol santai untuk tahu aktivitas hariannya, mengantarkan tidur, melakukan ibadah seperti shalat dan membaca Al Qur’an bersama-sama, dimana tujuan aktivitas bersama ini adalah untuk mempertahankan kontak emosional atau kedekatan sehingga anak merasa mendapat perhatian yang cukup.

Sebagimana yang ibu katakan, bahwa idealnya seorang ibu ada di rumah untuk mengasuh sendiri anaknya, jadi kami tetap menyarankan untuk memprioritaskan peran ibu. Seorang ibu adalah pendidik pertama dan utama, yang mengajari anak-anak hal-hal pertama dalam kehidupannya, yang meletakkan dasar-dasar tentang kehidupan. Setidaknya di masa golden age kira-kira 5-6 tahun pertama, masa emas yang menjadi proses perkembangan awal anak, para ibu diharapkan ada di rumah. Selepas usia tersebut, dengan pendidikan yang baik anak-anak biasanya sudah mulai mandiri untuk keperluan pribadinya, serta mampu berkomunikasi untuk mengutarakan isi hati dan pikirannya, sehingga para ibu dapat kembali bekerja dengan tanpa beban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar